Seandainya hati
bisa memilih ?!! Waaa . . . ini mau berbagi cerita tentang dunia kos-kosan atau dunia percintaan
sih ? Eitss. . . jangan salah, memangnya masalah pilih-memlih hanya dalam kisah cinta
doang ?
Enggakkan ? Karena sesungguhnya di dalam hidup ini, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus dipilih (
duh . . . ribet ya!). Mulai dari milih sabun mandi sampai pasta gigi, mulai dari jawaban soal ujian (kalau pilihan ganda) sampai tempat kosan. He. . he . . .he.
Truz kalau
nggak bisa milih
gimana dunkz?
Kisah Itupun Bermula
Kisah ini diawali dengan peristiwa mengharukan sekaligus memilukan. Suatu pagi yang cerah di bulan Juni 2005, saya harus segera hengkang meninggalkan rumah dan SMA yang penuh dengan kenangan menuju kota lain yang cukup asing. Duh . . . sedih rasanya waktu melihat mushola, kantin, ruang kelas, ruang guru dan papan tulis. Di setiap sudut SMAN 2 Dumai ini menyimpan begitu banyak kenangan.
Pagar sekolah seakan berurai air mata dan melambai-lambai karena tidak akan ada lagi makhluk manis (geer banget seh!!!) yang bertengger karena sering telat ketika upacara senin pagi. Pak satpam menatap sendu (kayaknya yang ini berlebihan deh!) karena tidak akan ada lagi yang berteriak “Bapaaaaaak . . . tunggu!!!” ketika beliau menutup pagar waktu bel masuk berbunyi. Pagi itu . . . semua hening melepas kepergian saya menuju dunia baru.
Kalau dipikir-pikir saya ini termasuk gadis nomaden yang selalu berpindah-pindah. Selama tiga tahun meninggalkan rumah, ada empat tempat hunian yang merasakan kehadiran saya. Hal itu sebenarnya bukan karena saya orang yang tidak kerasan, bosenan, tidak betahan dan sebagainya. Keadaanlah yang memaksa saya untuk begini. Beneran deh. . . nggak boong.
Saya pindah dari rumah kosan yang pertama karena memang pindah kuliah. Padahal saya sudah merasa nyaman, tentram, aman dan damai di sana. Yah. . . mau bagaimana lagi, nggak mungkin juga saya bolak-balik. Kalau kosnya di Depok dan kuliahnya di Bogor mungkin tidak masalah. Tapi ini Pekan Baru-Bogor Men !!!
Tempat tinggal saya yang kedua adalah asrama putri TPB IPB tersayang. Semua mahasiswa tingkat satu IPB wajib tinggal di Asrama. Tujuannya agar bisa membaur dan bersosialisasi dengan latar belakang dan karakter yang berbeda-beda. Sejujurnya saya betah tinggal di asrama karena kebersamaannya yang sangat kental. Namun lagi-lagi saya harus pindah ke tempat lain. Pernah suatu waktu saya iseng bertanya pada mba SR (senior residence/kakak pendamping asrama). “Mba, boleh nggak sih tetap inggal di asrama? soalnya saya udah betah banget nih mba”. Dengan santainya mba SR menjawab “Boleh aja sih, tapi kamu harus ikut SPMB lagi. Kan ngulang tingkat satu lagi tu . . ., jadinya boleh deh tinggal di asrama lagi (waaaaa…. Ya ndak maulah!!!)
Setelah keluar dari my belove dormitory, saya mengungsi ke sebuah rumah kosan yang cukup jauh dari hiruk pikuk peradaban kampus. Tapi hal itu tidak menjadi masalah karena secara keseluruhan saya cocok dengan kondisi kosan.
Sejauh ini kosan tersebut adalah rumah kosan yang paling lama saya tempati sekaligus memberikan begitu banyak kesan dan hikmah. Disana banyak cerita lewat karakter penghuninya yang terkadang sangat bertolak belakang. Ada yang rame banget, adapula sang pecinta ketenangan. Ada Si Bersih sebaliknya adapula yang joroknya minta ampun. Semua itu memberikan warna dalam mengasah kemampuan emosional saya.
Ibu Kos vs Anak Kos
Seperti yang teman-teman ketahui, setiap rumah kos pasti memiliki ibu or bapak kos. Ada ibu/bapak kos yang rumahnya dekat bahkan menyatu dengan rumah kosan namun adapula yang terpisah jauh. Nah . . .Saya itu termasuk anak kosan yang rumahnya jauh sekali dari ibu kos. Sehingga ibu kos jarang sekali datang dan kalaupun datang terkadang hanya untuk minta uang kosan (he. . .he. . . he, peace Bu!!!)
Tiada kusangka dan tiada kuduga saya terjebak dalam rumah kosan dimana penghuninya memiliki riwayat buruk perihal hubungan antara ibu dan anak kos. Buruk banget sih enggak, tapi yang namanya konflik-konflik kecil sering banget terjadi. Dan menurut catatan sejarah (weitzz. . .!!!) ketidakharmonisan itu sudah berlangsung lama, jauh sebelum saya hinggap di kosan tersebut. Ada saja yang menjadi penyebab ketidakharmonisan itu. Kalau menurut kacamata saya (kok. . . jadi nanya kacamata?) sebenarnya gesekan-gesekan tersebut tidak perlu terjadi jika kedua belah pihak bisa saling memahami kondisi, hak dan kewajiban masing-masing (sok bijak getuu deh . . . .!!!)
Uang kosan adalah hal yang seringkali menjadi masalah. Sebenarnya rumah kos itu tidak termasuk dalam kategori mahal. Setidaknya cukup wajar pada kelas dan zamannya. Namun sikap ibu kosan yang senantiasa disiplin dalam menagih uang kosan tidak disenangi oleh anak-anak. Ibu Rina (bukan nama sebenarnya lho) jarang sekali memberi kelonggaran waktu dalam hal bayar membayar uang kosan. Ketika masa tinggal habis maka penghuni kosan wajib membayar kembali jika memang tidak berniat pindah.
Pada umumnya anak-anak sulit untuk membayar uang kosan tepat waktu karena seringkali banyak kebutuhan hadir dalam waktu bersamaan. Namun terkadang Si ibu tidak mau tahu dan pantang menyerah sebelum dibayar. Oleh karena itu anak-anak seringkali malas bila bertemu Si Ibu. Ketika langkah-langkah kaki si Ibu mulai terdengar maka berhamburanlah mereka masuk ke dalam kamar masing-masing (termasuk yang nulis). Ck . . . ck . . . ck anak zaman sekarang.
Tersebutlah kisah seorang mba kosan yang sudah meraih sarjana alias sudah diwisuda. Bersamaan dengan itu masa tinggal beliau di kosanpun berakhir sudah. Namun karena beberapa hal Si Mba tidak bisa langsung pindah. Nah disinilah letak masalahnya. Si Ibu merasa bahwa Si Mba harus membayar lagi kalau memang tetap ingin tinggal disana. Namun Si Mba berpandangan lain, toh dia cuma tinggal beberapa hari lagi, jadi setidaknya Si Ibu bisa memberikan toleransi. Wah. . . masalah semakin rumit karena ternyata Si Mba tidak hanya tinggal selama beberapa hari namun berminggu-minggu kemudian tetap belum jua pindah.
Selama itu Si Ibu tetap rajin menelepon dan datang untuk menagih uang kos. Namun apa mau dikata Si Mba selalu tidak berada di rumah dan kunci kamar selalu dibawa. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Si Ibu datang dengan langkah tegap berharap Si Mba belum kemana-mana. Maka terjadilah kepanikan yang luar biasa melanda seisi kosan. Loh. . .kok seisi kosan? Ya. . . karena selama ini anak kosan bersekongkol menyembunyikan Si Mba dari pandangan Si Ibu. Terakhir mereka mengatakan kalau Si Mba lagi di Lampung dan pulangnya masih lama.
Akhirnya tanpa persiapan yang matang Si Mba disembunyikan di dalam kamarnya sendiri. Dalam waktu yang singkat suasana kamar berubah seakan tanpa penghuni. Tirai jendela tertutup dengan rapi dan sepipun mulai tercipta. Bersamaan dengan itu seorang teman tanpa dikomando menyambut Si Ibu dengan ramah, menanyakan kabar dan sebagainya padahal sebenarnya untuk mengulur waktu agar kebohongan semakin sempurna. Heran juga kenapa bisa kompak begitu ya?
Singkat cerita Si Ibu langsung menuju kamar Si Mba, melihat kondisi dan situasi. Wah ternyata… benar suasana di luar kamar mengindikasikan bahwa tiada seorangpun bersemayam di dalam sana. “Kunci kamarnya juga dibawa ya?” Tiba-tiba Si Ibu bertanya ke arah kami. Dengan koor yang sangat manis semuanya menjawab “Iya, Buuuuu!” Tangan Si Ibu mulai memegang handle pintu dengan gerakan ingin membuka pintu tersebut. Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar bunyi “klik. …. .klik”. Beberapa anak kosan tiba-tiba tercenung ditempatnya, siap-siap untuk menghadapi risiko yang tiada dikira-kira. Namun tiba-tiba Si Ibu berkata “ Ya. . .udah besok kalau Si Mba balik, bilang kuncinya jangan dibawa ya!’ Akhirnya Si Ibupun pulang.
Tiada berapa lama kemudian setelah memastikan bahwa keadaan aman terdengarlah jeritan dan teriakan kecil penghuni kosan. Wah . . . ada apakah kira-kira? Ternyata Si Mba lupa mengunci pintu kamarnya dan pintu kamar tersebut baru dikunci hampir bersamaan dengan ketika Si Ibu akan membuka pintu. Beberapa teman dapat mendengar pintu itu dikunci. Tapi herannya kenapa Si Ibu tidak mendengar sama sekali ya? Apa karena ketika akan membuka pintu Si Ibu ngobrol dengan anak-anak, jadi beliau sama sekali tidak menyadari bunyinya.
Bayangkan sodara-sodara seandainya Si Mba benar-benar lupa mengunci pintunya atau Si Ibu bisa mendengar bunyi pintu dikunci dari dalam. Wah. . . bisa berabe urusannya jika kebohongan tersebut terbongkar. Entah apa yang akan terjadi. Sungguh tidak dapat dibayangkan.
Bagi saya peristiwa itu benar-benar merupakan teguran Allah sekaligus cara Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaannya. Why? Pertama, Kebohongan walaupun atas nama solidaritas tetap tidak dapat dibenarkan. Kedua, walaubagaimanapun uang kos adalah kewajiban anak kos dan hak ibu kos terlepas dari sikap Si ibu. Sampai disini jelaslah bahwa aksi yang kami lakukan telah jauh dari kebenaran. Kalau dipikir-pikir bagaimana mungkin Si Mba bisa lupa mengunci pintu kamarnya, lha wong tujuan utamanya adalah untuk sembunyi. Kemudian bagaimana bisa Si Ibu tidak mendengar bunyi pintu yang dikunci dari dalam, sementara teman lain yang berada di dekat pintu dapat mendengarnya dengan jelas. Bagi saya peristiwa itu menunjukkan bagaimana Allah menegur kesalahan tanpa menyebabkan kami menanggung malu. Coba . . . bayangkan jika kebohongan itu terbongkar, maka akan beredar berita diseluruh penjuru kampus bahwa sekelompok wanita berjilbab telah bersekongkol untuk membohongi ibu kosnya.Tragisssss….!!!
Si Ummi and me
Di daerah sekitar kampus saya ada seorang wanita yang agak terganggu jiwanya. Beberapa kakak kelas sering memanggilnya dengan sebutan ummi. Si Ummi senang sekali memakai jilbab dan sering berada di masjid kampus. Sedikit banyak beliau berpengaruh juga terhadap kondusifnya lingkungan sekitar masjid. Mengapa? Karena Si Ummi kerap memarahi mahasiswa dan mahasiswi yang jalan berdua-duaan dengan teriakan “ woooi. . . . . bukan muhrim!” Walau yang lagi berduaan udah suami isteri (he…he…he) .Terkadang beliau juga bersikap sinis pada mahasiswi tidak berjilbab yang berada di sekitar kampus.
Sikap ummi yang paling tidak disenangi oleh mahasiswa adalah kebiasaannya untuk meminta uang, jilbab atau baju yang terkadang dengan sedikit memaksa. Kalau kita sudah berjanji untuk memberi sesuatu padanya maka janji itu akan terus diingat oleh Si Ummi sampai kita menepatinya.
Pada saat itu entah dapat angin dari mana, saya berjanji untuk memberikan Ummi sebuah jilbab. Pada waktu itu saya memiliki sebuah jibab cokelat yang jarang sekali dipakai. Jadi tidak ada salahnya kalau jilbab tersebut di berikan pada Si Ummi. Namun setiap saya membawakan jilbab itu , Si Ummi selalu tidak ada di tempat biasanya hingga suatu hari saya bertenu dengannya ketika berjalan pulang menuju kosan. Dalam hitungan detik Si Ummi dengan serta merta mengamit erat lengan saya dan menagih jilbab yang sudah dijanjikan padanya. Jujur, pada waktu itu saya takut sekali karena Si Ummi sering tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas. Lagipula pada waktu itu saya tidak membawa jilbab yang sudah dijanjikan padanya.
Dengan perasaan was-was akhirnya Si Ummi saya bawa ke kosan untuk mengambil jilbab. Di sepanjang perjalanan Si Ummi terus mengamit lengan saya dengan erat. Dan . . . bayangkan di sepanjang perjalanan orang-orang terus menatap saya yang digandeng ummi dengan mesra (duh. . .takutnya)
Sesampainya di kosan, saya langsung mengambil dan memberikan jilbab itu pada Ummi. Dan ternyata……Si Ummi nggak suka dengan jilbabnya. Si Ummi tiba-tiba marah dan pengen jilbabnya diganti duit aja (loh?!!). Dia minta uang lima ribu sebagai ganti. Pada awalnya saya menolak, tapi Si Ummi mengancam akan melempar sepatu dan sandal anak-anak kosan yang sedang bertengger manis di depan pintu masuk. Ya . . . udah akhirnya saya mengalah dan pasrah. Ketika mengambil uang , tanpa sengaja uang dua puluh ribuanlah yang saya keluarkan dan apesnya Si Ummi melihat itu semuanya. Akhirnya dia malah minta uang duapuluh ribuan itu (ternyata Si Ummi juga mgerti kalau uang dua puluh ribuan itu lebih gede dari lima ribuan). Akhirnya dengan hati nelangsa saya lepas juga uang dua puluh ribuan itu karena selain mengancam mengobrak-abrik sepatu dan sandal, Si Ummi juga sudah mulai teriak-teriak di depan kosan. Kan syereeemm!!!
Ketika memasuki rumah kosan, akhirnya saya baru menyadari bahwa ada beberapa pasang mata yang menatap adegan demi adegan yang saya lakoni bersama Si Ummi lewat jendela. Siapa tuuuuu? Siapa lagi kalau bukan teman-teman kosan tercinta. Waaaa….tega banget sih, dari tadi Cuma ngeliatin doank bukannya nolongin!!! Tapi kata-kata itu hanya bergema di relung-relung hati saja. Saya tetap jaim seakan-akan itu adalah peristiwa biasa dan kesannya “nggak masalah gitu loh”.
Pindah lagi
Tepat pada tanggal 11 Juni 2007 kembali saya harus pindah kos-kosan dan sekali lagi ini bukan karena saya nggak betah di kosan yang lama. Pada umumnya teman-teman di kosan sudah tidak tahan berhubungan dengan ibu kosan sehingga banyak yang pengen pindah hingga akhirnya semua penghuni jadi mau pindah. Dan…saya? So pasti juga harus pindah dong. Karena nggak mungkin bertahan sendirian disana.
Akhirnya kosan itupun menjadi kosong karena ditinggal oleh penghuninya. Tidak lama kemudian ternyata kosan itu dihuni oleh para pria. Hikz…hikz…hikz sedih juga kalau mengingat segala yang sudah dilalui bersama disana. Terkadang kalau lagi kangen saya iseng missed call nomor telepon kosan lama itu (kangen atau kurang kerjaan sih neng !!!).
Seandainya bisa memilih maka saya ingin tetap di satu rumah kosan saja, tanpa berpindah-pindah. Menjadi gadis nomaden ternyata cukup melelahkan. Lelah tenaga, lelah ongkos dan lelah pikiran. Tapi akhirnya saya menyadari bahwa inilah cara Allah mendidik saya, menghadapkan saya pada berbagai problema melalui berbagai karakter orang. Betapa banyak pengalaman yang saya alami dan begitu besar hikmah yang sudah saya peroleh selama ini. Setelah melalui sebuah perenungkan, saya memahami bahwa ternyata inilah sebuah proses indah yang tidak akan saya alami lagi di masa depan fase-fase kehidupan saya. Betapa Allah sangat mencintai hambanya, Betapa Allah paling mengetahui yang terbaik untuk hambanya.